Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri. Wahai Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.
Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:
Nafi’ menceritakan, dahulu, pada ‘Idul Fithri, Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma mandi sebelum berangkat ke tanah lapang. [Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa’, 1/177].
jawaban Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang mandi, beliau berkata:
((اغتسل كل يوم إن شئت)) فقال: لا، الغسل الذي هو الغسل؟ قال: ((يوم الجمعة، ويوم عرفة، ويوم النحر، ويوم الفطر)).
Artinya: “Mandilah setiap hari jika kamu menghendakinya”, yang bertanya berkata: “Bukan, mandi yang dimaksudkan adalah mandi yang disunnahkan?”, beliau menjawab: “Mandi hari Jum’at, hari Arafah, hari iduladha dan hari idulfitri”. (HR. al-Baihaqi dari jalan asy-Syafi’ie dari Zadzan, lihat Irwa-’ al-Ghalil, 1/177, karya al-Albani)
Pada hari ‘Id, disunnahkan untuk mandi. Karena pada hari tersebut kaum muslimin akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti pada hari Jum’at. Namun, apabila seseorang hanya berwudhu’ saja, maka sah baginya. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 3/257). Dan kaifiyatnya seperti mandi janabat.
Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah berkata,”Sunnah pada hari ‘Idul Fithri ada tiga. (Yaitu): berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar rumah dan mandi. [Irwa’ul Ghalil, 2/104].
2. Di anjurkan membersihkan diri dan Memakai pakaian yang paling bagus
memakai minyak wangi, bersiwak, sebagaimana disebutkan hadits tentang shalat Jum’at. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
((وإن كان طيب فليمسَّ منه وعليكم بالسواك))
“Dan jika ada minyak wangi maka hendakalah ia pakai dan hendaklah kalian memakai siwak”. (HR. Ibnu Majah, no. 1098 dan dihasankan oleh al-Albani, di dalam Shahih Ibnu Majah, 1/326)
Imam Malik rahimahullah berkata,”Saya mendengar Ahlul Ilmi, mereka menganggap sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Id.” [Al Mughni, 3/258].
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, ketika keluar pada shalat dua hari raya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terindah. Beliau memiliki hullah yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari Jum,at. Suatu waktu, Beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan burdah (kain selimut warna merah)." [Zaadul Ma’ad, 1/426].
Sedangkan bagi kaum wanita, tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Dan hendaknya, mereka menjauh dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah, sebagaimana realita yang kita lihat pada zaman sekarang.
hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Umar mengambil sebuah Jubbah (pakaian) dari istabraq (sutera yang tebal) yang dijual di pasar, lalu beliau bawa dan berikan kepada Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengannya pada hari id dan ketika datang para tamu”, dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
((إنما هذه لباس من لا خَلاقَ له))
Artinya: “Sesungguhnya ini adalah hanya pakaian seorang yang tidak mendapat bagian”. (HR. Bukhari, no. 938 dan Muslim, no. 2068)
Ibnu Qudamah rahimaullah berkata: “Hal ini menunjukkan bahwa berhias pada kesempatan-kesempatan ini dikenal di kalangan mereka…, dan berkata Imam Malik: “Aku telah mendengar para ulama menganjurkan untuk memakai minyak wangi dan berhias pada setiap id dan pemimpin lebih pantas untuk ini karena yang terlihat di antara mereka”. (Lihat al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, 3/257-258)
Dan diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memakai pakaiannya yang paling bagus di dalam shalat id. (Lihat Fathul bari, 2/439)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai pakaian yang paling bagus ketika keluar menuju shalat id”. (Lihat Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim 1/441)
dari Anas bin Malik radhiyallahu, beliau bercerita:
((كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات،ويأكلهن وتراً))
Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tidak pergi ke shalat idulfitri sampai beliau makan beberapa buah kurma dan memakannya dalam jumlah yang ganjil”. (HR. Bukhari, no. 953)
Dan dari Buraidah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari ‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan. Dan Beliau tidak makan pada hari ‘Idul Adh-ha, sehingga Beliau pulang ke rumah, kemudian makan dari daging kurbannya".[HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah].
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, sebelum keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam makan beberapa kurma, dengan jumlah yang ganjil. Dan pada hari ‘Idul Adh-ha, Beliau tidak makan sehingga kembali dari tanah lapang, maka Beliau makan dari daging kurbannya." [Zaadul Ma’ad, 1/426].
4. Pergi ke tempat didirikan shalat id dengan berjalan kaki
Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;
((كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يخرج إلى العيد ماشياً ويرجع ماشياً))
Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menuju shalat id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki”. (HR. Ibnu Majah, no. 1295 dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah, 1/388)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian, semoga kalian bersyukur". [Al Baqarah:185].
Waktu bertakbir dimulai setelah terlihatnya hilal bulan Syawwal, hal ini jika memungkinkan. Dan jika tidak mungkin, maka dengan datangnya berita, atau ketika terbenamnya matahari pada tanggal 30 Ramadhan. Kemudian, takbir ini hingga imam selesai dari khutbah ‘Id. Demikian menurut pendapat yang benar, diantara pendapat Ahlul Ilmi. Akan tetapi, kita tidak bertakbir ketika mendengarkan khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang, atau ketika menunggu imam datang. [Ahkamul ‘Idain, 24].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Takbir pada hari Idul Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal, dan berakhir dengan selesainya ‘Id. Yaitu ketika imam selesai dari khutbah, (demikian) menurut pendapat yang benar". [Majmu’ Fatawa, 24/220, 221]
Adapun sifat (shighat) takbir, dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia bertakbir pada hari hari tasyriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz Allahu Akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan sanadnya shahih, akan tetapi disebutkan di lafadz yang lain dengan tiga kali.
Tidak selayaknya bertakbir secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang untuk melafadzkan dengan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian diikuti sekelompok orang tersebut. Karena, amalan seperti ini tidak pernah dinukil dari Salaf. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Seperti ini pula pada setiap dzikir, atau ketika memanjatkan do’a-do’a yang masyru’ pada setiap waktu. [Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 30].
Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: "Patut untuk diberi peringatan pada saat sekarang ini, bahwa mengeraskan suara ketika bertakbir tidak disyari’atkan secara berjama’ah dengan satu suara, sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian orang. Demikian pula pada setiap dzikir yang dibaca dengan keras atau tidak, maka tidak disyari’atkan untuk berjama’i. Hendaknya kita waspada terhadap masalah ini" [Silsilah Al Ahadits Shahihah, 1/121].
6. Termasuk dari sunnah, melaksanakan shalat id di mushalla (maksudnya: lapangan luas) dan tidak dilaksanakan di masjid kecuali jika ada keperluan.
Berdasarkan riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu;
((كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يخرج يوم الفطر والأضحى إلى المصلى فأول شيء يبدأ به الصلاة))
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar ke mushalla pada hari idulfitri dan iduladha, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat”. (HR. Bukhari, no. 956 dan Muslim, no. 889)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Mengerjakan shalat ‘Id di tanah lapang adalah sunnah, karena dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula khulafaur rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘Id”. [Al Mughni, 3/260].
7. Termasuk dari sunnah adalah pergi menuju mushalla dari satu jalan dan pulang dari jalan yang lain.
((كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا كان يوم عيد خالف الطريق))
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika pada hari id menyelisihi jalan (dari jalan yang beliau lalui ketika beliau berangkat menuju mushalla)”. (HR. Bukhari, no. 986)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dengan berjalan kaki, dan beliau menyelisihi jalan; (yaitu) berangkat lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain". [Zaadul Ma’ad, 1/432].
Hukum mengambil jalan yang berbeda ini hanya khusus pada dua hari ‘Id. Tidak disunnahkan untuk amalan lainnya, seperti shalat Jum’ah, sebagaimana disebutkan Ibnu Dhuwaiyan di dalam kitab Manarus Sabil 1/151. Atau dalam masalah amal shalih yang lain, Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitab Riyadhush Shalihin, bab disunnahkannya pergi ke shalat ‘Id, menjenguk orang sakit, pergi haji, perang, mengiringi jenazah dan yang lainnya dengan mengambil jalan yang berbeda, supaya memperbanyak tempat-tempat ibadahnya.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal seperti ini tidak bisa diqiaskan. Terlebih lagi amalan-amalan tersebut ada pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidak pernah dinukil bahwa Beliau mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ‘Id. Kita mempunyai satu kaidah yang penting bagi thalibul ilmi, segala sesuatu yang ada sebabnya pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau tidak mengerjakannya, maka amalan tersebut tertolak”. Hingga Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maka yang benar, ialah pendapat yang mengatakan, mengambil jalan yang berbeda, khusus pada dua shalat ‘Id saja, sebagaimana yang zhahir dari perkataan muallif -Al Hajjawi di dalam Zaadul Mustaqni’- karena ia tidak menyebutkan pada hari Jum’at, tetapi hanya menyebutkan pada dua hari ‘Id. Hal ini menunjukkan, bahwa dia memilih pendapat tidak disunnahkannya mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ’Id”. [Asy Syarhul Mumti’, 5/173-175].
Hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:
"Nabi memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq (wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan Beliau memerintahkan wanita haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin". [Muttafaqun ‘alaih].
Dahulu, Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa menjaga untuk mengerjakan shalat ‘Id. Ini merupakan dalil wajibnya shalat ‘Id. Dan karena shalat ‘Id menggugurkan kewajiban shalat Jum’at, jika ‘Id jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang bukan wajib, tidak mungkin akan menggugurkan satu kewajiban yang lain. Lihat At Ta’liqat Ar Radhiyah, Syaikh Al Albani, 1/380.
Pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, merupakan madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pula pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia mengatakan di dalam Majmu’Fatawa (23/161), sebagai berikut: “Oleh karena itu, kami merajihkan bahwa hukum shalat ‘Id adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tidak wajib, adalah perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘Id termasuk syi’ar Islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini, lebih banyak daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak tepat”.
b. WAKTU SHALAT ‘IDUL FITHRI
Sebagian besar Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa waktu shalat ‘Id adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari. Yakni waktu Dhuha.
Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan menunaikan zakat fithri.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan menyegerakan shalat ‘idul Adh-ha. Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang sangat berpegang kepada Sunnah. Dia tidak keluar hingga terbit matahari”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].
c. TIDAK ADA ADZAN DAN IQAMAH SEBELUM SHALAT ‘ID
Dari Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata:
"Tidak pernah adzan pada hari ‘Idul Fithri dan hari ‘Idul Adh-ha". [HR Al Bukhari dan Muslim]
Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada dua hari raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqamat". [HR Muslim].
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai ke tanah lapang, Beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat ataupun ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan yang sunnah, untuk tidak dikerjakan semua itu”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].
d. Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah ‘Id.
Disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma:
"Sesungguhnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya" [HR Al Bukhari].
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Sama sekali tidak ada satu shalat sunnah saat sebelum atau sesudah ‘Id”. Kemudian dia ditanya: “Bagaimana dengan orang yang ingin shalat pada waktu itu?” Dia menjawab: “Saya khawatir akan diikuti oleh orang yang melihatnya. Ya’ni jangan shalat”. [Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/283].
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Kesimpulannya, pada shalat ‘Id tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang mengqiyaskan dengan shalat Jum’ah. Namun, shalat sunnah muthlaqah tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh seperti pada hari yang lain". [Fath-hul Bari, 2/476].
Apabila shalat ‘Id dikerjakan di masjid karena adanya udzur, maka diperintahkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam.
e. al-’awatiq (wanita-wanita yang sudah baligh) dan dzawatil khudur (wanita-wanita perawan yang belum menikah dan selalu menutup diri) serta wanita-wanita yang sedang haidh, serta anak dianjurkan untuk pergi ke mushalla dengan menutup aurat dan tidak memakai minyak wangi, agar merasakan kebaikan dan paggilan kaum muslimin pada hari itu. Berdasarkan hadits dari shahabat Ummu ‘Athiyyah radhiyallhu ‘anha, bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
((تخرج العواتق وذوات الخدور، أو العواتق ذوات الخدور، والحيّض، وليشهدن الخير ودعوة المؤمنين ويعتزل الحيّض المصلى))
Artinya: “Hendaknya al-’awatiq (waniat-wanita yang sudah baligh) dan dzawatil khudur (wanita-wanita perawan yang belum menikah dan selalu menutup diri) serta wanita-wanita yang sedang haid keluar (untuk pergi ke mushalla) dan menyaksikan kebaikan dan doanya orang-orang beriman dan para wanita yang haid hendaknya menjauhi mushalla”. (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890)
Sedangkan perintah dianjurkannya anak-anak untuk pergi menuju mushalla id adalah berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: ((خرجت مع النبي – صلى الله عليه وسلم – يوم فطر أو أضحى فصلى العيد ثم خطب، ثم أتى النساء فوعظهن، وذكرهن، وأمرهن بالصدقة))
Artinya: “Aku pernah keluar bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada idulfitri atau iduladha lalu beliau shalat id kemudian berkhutbah, kemudian mendatangi para wanita menasehati dan mengingatkan mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk bersedekah”. (HR. Bukhari, no. 975 dan beliau (Imam Al Bukhari) memberikan bab di atas hadits ini dengan: “Bab keluarnya anak-anak menuju mushalla ketika hari id”)
f. Mengqadha-’ shalat id dua raka’at bagi yang ketinggalan shalat id bersama imam karena lupa atau ketiduran. Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Bab jika seseorang ketinggalan shalat id maka dia shalat dua rakaat. Demikian pula para wanita dan yang berada di rumah, diperkampungan berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
« هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ »
Artinya: “Hari ini adalah hari id kami, kaum muslimin”, dan Anas bin Malik radhiyallhu ‘anhu telah memerintahkan budaknya Ibnu Abi ‘Utbah yang tinggal di daerah Zawiyah (yaitu daerah dekat kota Bashrah), lalu ia mengumpulan keluarganya dan orang kampung dan shalat sebagaimana shalat dan takbirnya orang kota. (Lihat Shahih Bukhari, no. 987)
1) Menurut sunnah, Imam shalat dan di depannya sutrah (pembatas), hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallhu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَيُصَلِّى إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِى السَّفَرِ ، فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا الأُمَرَاءُ
Artinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika keluar pada hari id beliau memerintahkan untuk diambilkan tombak dan diletakkan di hadapan beliau, lalu beliau shalat menghadap kepadanya dan kaum muslimin berada di belakang beliau, dan senantiasa beliau melakukan itu ketika bepergian, dari sinilah para pemimpin mengambil kebiasaan itu”. (HR. Bukhari, no. 494)
2) Shalat id dilakukan dua rakat, dan tidak ada khilaf dalam masalah ini di antara para ulama, karena hal ini sudah mutawatir kabarnya tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak lebih dari dua raka’at dan juga berdasarkan perkataan Umar radhiyallhu ‘anhu:
صَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم.
Artinya: “Shalat Jum’at dua rakaat, shalat idulfitri dua rakaat, shalat iduladha dua rakaat, shalat ketika safar dua rakaat, sempurna tidak kurang melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. an-Nasa-i, no. 1419 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1064)
3) Shalat id dilaksanakan sebelum khotbah. Berdasarkan riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu;
((كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يخرج يوم الفطر والأضحى إلى المصلى فأول شيء يبدأ به الصلاة))
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar ke mushalla pada hari idulfitri dan iduladha, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat”. (HR. Bukhari, no. 956 dan Muslim, no. 889)
4) Pada rakaat pertama bertakbiratul ihram lalu membaca doa istiftah, kemudian bertakbir sebanyak enam kali. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallhu ‘anhuma, nabi Muhammadh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« التَّكْبِيرُ فِى الْفِطْرِ سَبْعٌ فِى الأُولَى وَخَمْسٌ فِى الآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا ».
Artinya: “Takbir di dalam shalat id tujuh takbir di rakaat pertama dan lima di rakaat kedua dan bacaan setelah kedua-duanya”. (HR. Abu Daud, no. 1151 dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Kitab Shahih Abu Daud, 1/315)
dan juga berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah radhiyallhu ‘anha;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَبَّرَ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَىِ الرُّكُوعِ.
Artinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir di dalam shalat idulfitri dan iduladha, tujuh dan lima selain dua takbir ruku’”. (HR. Ibnu Majah, no. 1279 dan dihasankan oleh al-Albani, di dalam Shahih Abu Daud, 1/315, At-Tirmidzi berkata: “Aku telah bertanya tentang hadits ini, beliau menjawab: “Dia adalah hadits shahih”)
Berkata Ibnu Baz rahimahullah: “Tujuh takbir ini di dalamnya takbiratul ihram dan di rakaat kedua bertakbir lima takbir selai takbir perpindahan”. Ketika beliau menjelaskan tentang hadits no. 519 dari kitab Bulugh al-Maram.
5) Kemudian membaca ta’awwudz lalu surat Al fatihah, kemudian disunnahkan membaca surat Qaaf, hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid Al Alaitsi radhiyallahu ‘anhu bahwa Umar bin Khaththab radhiyallhu ‘anhu bertanya kepadanya tentang apa yang di baca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat idulfitri dan iduladha, beliau menjawab: “Beliau membaca di dalam kedua shalat itu surat:
(ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ)
atau membaca surat al-A’la, hal ini berdasarkan hadits dari an- Nu’man bin Basyir radhiyallhu ‘anhu; “Pernah Rasulullah membaca di dalam dua shalat id (idulfitri dan iduladha) dan di dalam shalat Jumat:
(سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)
6) Kemudian pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali selain takbir perpindahan dari sujud ke berdiri. Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, HR. Ibnu Abi Syaibah 2/5/1, dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Kitab Irwa-’ al-Ghalil, 3/111.
7) Lalu membaca surat Al Fatihah dan disunnahkan membaca surat al-Qamar, hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid Al Alaitsi radhiyallahu ‘anhu bahwa Umar bin Khaththab radhiyallhu ‘anhu bertanya kepadanya tentang apa yang di baca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat Idulfitri dan Iduladha, beliau menjawab: “Beliau membaca di dalam kedua shalat itu surat:
(اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)
atau surat Al Ghasyiyah, hal ini berdasarkan hadits dari an- Nu’man bin Basyir radhiyallhu ‘anhu; “Pernah Rasulullah membaca di dalam dua shalat id (idulfitri dan iduladha) dan di dalam shalat Jumat:
(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)
Dan tidak mengapa mengangkat tangan di setiap takbir tadi, menurut pendapat sebagian para Ulama seperti ‘Atha-’, al-Auza’I, Abu Hanifah, asy-Syafi’ie, Ahmad serta Ibnu Baz rahimahumullahu, diriwayatkan tentang Umar radhiyallhu ‘anha bahwasanya beliau mengangkat tangan ketika setiap takbir pada shalat jenazah dan shalat id. Riwayat al-Atsram.
Sedangkan sebagian ulama seperti: Malik dan ats-Sauri rahimahumallahu berpendapat tidak mengangkatnya dan al-Albani melemahkan riwayat yang menjelaskan tentang Umar radhiyallhu ‘anha, bahwasanya beliau mengangkat tangan ketika setiap takbir pada shalat jenazah dan shalat id. (Lihat al-Irwa-’, 3/11)
9) Dan tidak mengapa mengucapkan Allahu Akbar, alhamdulillah, subhanallah, bershalawat atas Nabi Muhammad dan berdoa di antara takbir-takbir pada raka’at pertama dan kedua tadi, sebagaimana jawaban Ibnu Mas’ud radhiyallhu ‘anha ketika ditanya oleh al-Walid bin ‘uqbah: “Telah datang hari raya id, apa yang harus aku perbuat?”
تقول: الله أكبر، وتحمد الله، وتثني عليه، وتصلي على النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وتدعو الله، ثم تكبر، وتحمد الله وتثني عليه، وتصلي على النبي – صلى الله عليه وسلم – ، ثم تكبر، وتحمد الله، وتثني عليه وتصلي على النبي – صلى الله عليه وسلم – ، وتدعو الله، ثم تكبر، وتحمد الله، وتثني عليه، وتصلي على النبي – صلى الله عليه وسلم – وتدعو الله ثم تكبر، فقال حذيفة وأبو موسى: أصاب)) الطبراني في الكبير،9/303،برقم 9515،ورقم 9523،وصححه الألباني في إرواء الغليل،3/115 .
“Kamu mengucapkan Allahu Akbar, alhamdulillah, subhanallah, bershalawat atas Nabi Muhammad dan berdoa kepada Allah, kemudian Kamu mengucapkan Allahu Akbar, alhamdulillah, subhanallah, bershalawat atas Nabi Muhammad dan berdoa kepada Allah, kemudian Kamu mengucapkan Allahu Akbar, alhamdulillah, subhanallah, bershalawat atas Nabi Muhammad dan berdoa kepada Allah”, Hudzaifah dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Dia (Abdullah bin Mas’ud) telah benar”. (Riwayat ath-Thabarani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no hadits: 9515 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Al-’Irwa-’ 3/115))
10) Setelah salam dari shalat, Imam berkhotbah dengan berdiri memberikan nasehat dan wejangan kepada kaum muslimin untuk bertaqwa kepada Allah Azza Wa Jalla dan taat kepada-Nya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallah ‘anhu;
((كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يخرج يوم الفطر والأضحى إلى المصلى، فأول شيء يبدأ به الصلاة، ثم ينصرف فيقوم مقابل الناس والناس جلوس على صفوفهم، فيعظهم، ويوصيهم، ويأمرهم، فإن كان يريد أن يقطع بعثاً قطعه، أو يأمر بشيء أمر به، ثم ينصرف))
Artinya: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju mushalla untuk shalat idulfitri dan iduladha, yang pertama kali beliau mulai adalah shalat id, kemudian setelah selesai beliau berdiri di hadapan orang-orang, dan orang-orang duduk di saf-saf mereka, lalu beliau memberikan nasehat dan wasiat kepada mereka serta memerintahkan mereka, jika beliau ingin mengutus utusan beliau maka beliau mengutusnya atau memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi”. (HR. Bukhari, no. 956 dan Muslim, no. 889)
11) Dan termasuk sunnah, Imam berkhotbah di tempat yang agak tinggi, hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma;
((قام النبي – صلى الله عليه وسلم – يوم الفطر، فصلى، فبدأ بالصلاة، ثم خطب، فلما فرغ نزل فأتى النساء فذكرهن … ))
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri pada hari Idulfitri, kemudian shalat, beliau memulainya dengan shalat, kemudian beliau berkhotbah setelah selesai beliau turun dan mendatangi para wanita, lalu beliau memberikan nasehat dan mengingatkan mereka”. (HR. Bukhari, no. 978 dan Muslim, no. 885)
12) Dan bagi yang ikut shalat id maka diperbolehkan mendengarkan khotbah ataupun pergi jika ia mempunyai hajat yang lain, hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Sa-’ib radhiyallhu ‘anhu;
((شهدت مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – العيد فلما قضى الصلاة قال: ((إنا نخطب فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس، ومن أحب أن يذهب فليذهب))
Artinya: “Aku menyaksikan id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah selesai shalat beliau bersabda: “Kami berkhotbah, maka barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khotbah maka hendaklah ia dudukm dan barangsiap yang ingin pergi maka silahkan pergi”. (HR. Abu Daud, no. 1155 dan an-Nasa-’i, no. 1570 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih an-Nasa-’, 1/510)
13) Para ulama mengatakan takbir itu ada dua macam;
1. Takbir Muthlaq, pada hari Idulfitri dimulai dari setelah terbenamnya matahari menandakan hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:
{ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ الله عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ }
Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. al-Baqarah:185)
sedangkan pada hari Iduladha dari hari pertama bulan Dzulhijjah sampai terbenamnya matahari menandakan selesainya hari terakhir dari tasyrik, hal ini berdasarkan firman Allah Azza Wa Jalla:
{ وَاذْكُرُواْ الله فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ }
Artinya: “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang”. (QS. al-Baqarah: 203)
{ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ الله فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ }
Artinya: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”. (QS. al-Hajj: 28)
2. Takbir Muqayyad (yang terbatas setiap setelah shalat-shalat fardhu pada hari iduladha saja), waktunya dari setelah shalat shubuh hari Arafah (meskipun ada khilaf di antara para ulama) sampai habis shalat ashar pada hari ketiga belas bulan Dzulhijjah, hal ini berdasarkan pekerjaan dari beberapa shahabat dianataranya Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum. (Lihat al-Irwa-’, karya Imam al-Albani, 3/124-125))
14) Sifat-sifat takbir dengan sanad yang shahih kepada para shahabat Nabi Muhammad radhiyallahu ‘anhum,
* الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله و الله أكبر, الله أكبر, و لله الحمد
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallhu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh al-Albani.
* الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, و لله الحمد, الله أكبر و أجلّ, الله أكبر على ما هدانا
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqy di dalam Kitab Sunan Al Kubra, 3/315 dan dishahihkan oleh al-Albani.
* الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر كبيراً
Dari Salman radhiyallhu ‘anhu, diriwayatkan oleh AbdurRazzaq dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam Kitab Fathul Bari, 2/462. Wallahu a’lam.
15. Mengucapkan at-tahniah (ucapan selamat) karena hari id, hal ini karena para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, mereka mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minka.” Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Kitab Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al Bukhari, berkata:
ورُوِّينا في ((المحامليات)) بإسناد حسن عن جبير بن نُفير قال: ((كان أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض: تقبل الله منَّا ومنك))
Artinya: “Telah diriwayatkan kepada kami di dalam al mhamiliyyat dengan sanad yang baik dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: “Senantiasa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertemu pada hari id, sebagiannya mengatakan kepada sebagian yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima amalan-amalan kita seluruhnya). (Lihat Kitab Fath al-Bari bi syarhi shahih al Bukhari, karya Ibnu Hajar, juz 2/hal: 446)
و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين
2. moslemsunnah.wordpress.com