Minggu, 19 Juni 2011

Syarat Diterimanya Ibadah

Bismillah.
Alhamdulillah, ashsholaatu wassalaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’da.

Wahai saudarku,
Alloh telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia sebuah kalimat yang besar maknanya, yang menunjukkan tujuan Alloh menciptakan Manusia & jin, Ia berfirman dalam QS. Al Zariyat: 56, yang artinya:
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dan NabiNya yang mulia shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang artinya:

“Hak Alloh atas HambaNya adalah supaya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wahai saudaraku, yang jadi pertanyaan saat ini adalah ibadah seperti apakah yang diterima oleh Alloh? Apa syaratnya agar ibadah kita diterima oleh Alloh?

Disini saya akan membahas sedikit mengenai syarat diterimanya amal sebatas apa yang saya ketahui. Wahai saudara, termasuk salah satu sifat seorang muslim hendaknya apabila terdengar suatu kabar atau hukum berkaitan dengan agama, maka tanyakan apa dalilnya dan bagaimana keshohihannya. Agar kita semua selamat dari kejahilan & kesesatan dalam beragama. Oleh karena itu, Insya Alloh saya akan bawakan dalil-dalil dan pendapat ulama tentang permasalahan ini.

Ketahuilah wahai saudaraku, amal seorang muslim hanya akan diterima dengan 2 hal, yaitu amal yang dilakukan dengan IKHLAS hanya mengharapkan wajah Alloh semata dan amal yang dilakukan dengan ITTIBA’ (mengikuti petunjuk nabi shollallohu ‘alaihi wasallam).

1. Ikhlas
Ikhlas memiliki makna memurnikan tujuan beribadah kepada Alloh dari hal-hal yang mengotorinya, yaitu riya’ (ingin dilihat orang) & sum’ah (ingin didengar orang). Arti lainnya adlah menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah kepada Alloh dengan mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkosentrasi (khusyu’) kepada Al-Kholiq.

Lalu apa dalilnya yang mengatakan bahwa ikhlas adlah syarat diterimanya amal?
Dalilnya tersebar dibanyak ayat dalam Al Qur’an dan tersurat dalam hadits-hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, diantara dalil-dalinya adalah sebagai berikut:

Al Qur’an
Alloh berfirman dalam QS. Az Zumar : 2, yang artinya:
“sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

Dan juga QS. Al bayyinah : 5
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

As Sunnah
A. Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang tadi mengulangi pertanyaanya tiga kali, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun tetap menjawab, “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Lalu beliaupun bersabda, “Sesungguhnya Alloh tidak menerima suatu amalan, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.”(HR. Abu dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang jayyid, dishohihkan oleh ibnu hajar dalam fathul baariy)

B. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, "Saya mendengar Umar ibnul Khaththab rodhiallohu ‘anhu (berpidato 8/59) di atas mimbar, 'Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, '(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat 6/118) dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya 1/20) kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya 3/119), maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah." (HR. Bukhori)

2. Ittiba’
Wahai saudarku niat yang baik dan lurus saja tidak cukup, ia harus disempurnakan dengan ittiba’ kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa’ (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) dan uswah (berpanutan). Ittiba’ terhadap Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan mengamalkan isinya. Ittiba’ kepada Rasul berarti menjadikannya sebagai panutan yang patut diteladani dan ditelusuri langkahnya. (Mahabbatur Rasul, hal.101-102).

Adapun secara istilah ittiba’ berarti mengikuti seseorang atau suatu ucapan dengan hujjah dan dalil. Ibnu Khuwaizi Mandad mengatakan : "Setiap orang yang engkau ikuti dengan hujjah dan dalil padanya, maka engkau adalah muttabi’ (Ibnu Abdilbar dalam kitab Bayanul ‘Ilmi, 2/143).

Namun perlu diperhatikan bahwa mustahil seseorang itu ber-uswah atau ber-ittiba’ kepada Rasulullah saw jika dia jahil (bodoh) terhadap sunnah-sunnah dan petunjuk-petunjuk Rasulullah saw. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk ber-uswah kepada Rasulullah eadalah dengan mempelajari sunnah-sunnah beliau – ini menunjukkan bahwa atba’ (pengikut Rasul) adalah ahlul bashirah (orang yang berilmu).

Jadi, Ittiba’ ialah mengikuti petunjuk Rosululloh shollallohu ‘aliahi wasallam melalui hadits-hadits yang sah (yang derajatnya shohih atau hasan) dari beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Kenapa harus ittiba’? Apa dasarnya?
Kita jawab, banyak dasarnya, baik dari alQur’an maupun As Sunnah. Saya akan tunjukkan beberapa dalilnya yang insya Alloh dapat mewakili, diantaranya:

Al Qur’an
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik., (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kesenangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21)

Dan juga
“..apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. Al Harsy: 7)

As Sunnah
“ Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya (contohnya) dari kami maka dia tertolak” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya (tidak ada contohnya), maka ia tertolak” (HR. Bukhori dan Muslim, dari ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha)

Para ulama pun telah angkat bicara mengenai hal ini (syarat diterimanya amal), diantaranya adalah Fudhail bin ‘iyadh rohimulloh ketika menafsirkan firman Alloh, “supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya” (QS. Al mulk:2) Bliau berkata, “maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetepi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalannya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Alloh, sedang amal yang benar adalah apabila dia sesuai dengan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.”
Jadi, sudah jelaslah bahwa syarat diterimanya amal seorang muslim adalah dengan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh & dengan contoh dari nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.
Maka saudaraku, jadikanlah dua syarat ini dasar kita dalam beramal. Apakah kita mau beramal namun semuanya sia-sia? Dan apakah kita mau hanya mendapatkan lelah tanpa pahala? Dan apakah kita mau terjerumus dalam dosa?

Ketahuilah saudaraku, apabila kedua syarat ini tidak terpenuhi maka akan sia-sia ibadah kita dan apabila salah satu saja tidak terpenuhi maka dapat menjerumuskan kita kedalam dosa. Bayangkan apabila kita beribadah sesuai contoh nabi tetapi kita tidak ikhlas dan mengharapkan orang lain melihat kita dalam beribadah, maka kita akan mendapatkan dosa riya’. Lalu bayangkan jika kita beribadah hanya dengan niat ikhlas tanpa ittiba’ maka kita akan terjerumus pada dosa bid’ah. Wallohu a’lam

Apa yang benar dalam artikel ini datangnya dari Alloh dan apa yang keliru adalah dari kesalahan saya dan syaithon. Saya mohon ampun kepada Alloh Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Akhirnya, Saya berharap saudaraku memberi nasihat yang baik apabila di dalam buku ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Dan apabila ada pertanyaan atau kurang jelas dengan penjelasan saya, silahkan bertanya. Insya Alloh jika saya mampu untuk menjawabnya maka saya akan jawab.

Semoga Alloh memudahkan kita mengamalkan dua syarat ini dalam beribadah dan semoga Alloh mengistiqomahkan kita diatas hidayahNya serta mewafatkan kita diatas islam dan sunnah.

Shollallohu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumidiin. Alhamdulillahi Robbil ‘aalamin.
Subhanakallohumma wabihamdika asyhadualla ilaha ila anta astaghfiruka wa’atubu ilaik.

Bagi saudara-saudaraku ini maroji (sumber-sumber penulisan) saya:
1. Alqur’anul Karim dan terjemahannya
2. Ilmu ushul bid’ah karya Asy syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari
3. Ambillah Aqidahmu dari Alqur’an dan Assunnah yang Shohih, karya Asy syaikh muhammad bin jamil zainu
4. Syarah Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, karya al ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas
5. Dan kitab-kitab lainnya

Kamis, 16 Juni 2011

القواعــد الأربـع (Kaidah Memahami Tauhid dan Syirik)

بسم الله الرحمن الرحيم
أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكـًا أينما كنت، وأن يجعلك ممّن إذا أُعطيَ شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإنّ هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.
اعلم أرشدك الله لطاعته: أن الحنيفيّة ملّة إبراهيم: أن تعبد الله مخلصـًا له الدين كما قال تعالى ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ﴾[الذاريات:56]. فإذا عرفت أنّ الله خلقك لعبادته فاعلم: أنّ العبادة لا تسمّى عبادة إلا مع التوحيد، كما أنّ الصلاة لا تسمّى صلاة إلى مع الطهارة، فإذا دخل الشرك في العبادة فسدتْ كالحدَث إذا دخل في الطهارة. فإذا عرفتَ أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفتَ أنّ أهمّ ما عليك: معرفة ذلك، لعلّ الله أن يخلّصك من هذه الشَّبَكة، وهي الشرك بالله الذي قال الله فيه: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾[النساء:116], وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabbnya Arsy yang besar, agar Dia menjadikan anda sebagai wali-Nya di dunia dan di akhirat, menjadikan anda sebagai orang yang diberkahi dimanapun anda berada dan menjadikan anda termasuk golongan orang-orang yang jika diberikan sesuatu maka dia bersyukur, jika ditimpakan ujian maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan. Karena ketiga sifat ini merupakan tanda kebahagiaan hidup seseorang.
Ketahuilah –semoga Allah Ta'ala memberikan tuntunan kepada anda-, sesunguhnya al-hanifiah adalah agamanya Nabi Ibrahim: Yaitu anda beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan: 
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Dan bila Anda telah mengetahui bahwasanya Allah Ta'ala menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah: Bahwa ibadah tidak teranggap dia ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah teranggap sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Karenanya jika ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadats.
Kalau anda sudah mengetahui bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri, bahwa hal itu menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) dan menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.
Kalau anda sudah mengetahui semua perkara di atas, niscaya anda akan mengetahui bahwa perkara yang terpenting untuk anda ketahui adalah mempelajari masalah ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah berkenan membebaskan anda dari jaring-jaring kerusakan ini. Yaitu kesyirikan kepada Allah Ta'ala, yang Allah Ta'ala telah berfirman tentangnya: 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa' : 116)
Pengetahuan akan hal ini (kesyirikan) akan mampu diraih dengan memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam Kitab-Nya

القاعدة الأولى
أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31].

Kaidah pertama:
Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta, dan yang mengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:'Allah'. Maka katakanlah:'Mengapa kalian tidak bertakwa [kepada-Nya]”. (QS. Yunus: 31).

القاعدة الثانية
أنّهم يقولون: ما دعوناهم وتوجّهنا إليهم إلا لطلب القُرْبة والشفاعة، فدليل القُربة قوله تعالى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].
ودليل الشفاعة قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]،
والشفاعة شفاعتان: شفاعة منفيّة وشفاعة مثبَتة:
فالشفاعة المنفيّة ما كانت تٌطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلاّ الله، والدليل: قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].
والشفاعة المثبَتة هي: التي تُطلب من الله، والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة، والمشفوع له: من رضيَ اللهُ قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].
Kaidah kedua:
Mereka (musyrikin) berkata: "Kami tidak berdo'a dan tidak menyerahkan ibadah kepada mereka (sembahan selain Allah) kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafaat (mereka nantinya akan memberi syafa'at kepada kami, pent.)
Dalil tentang pendekatan diri adalah firman Allah Ta'ala:
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar: 3).
Adapun dalil tentang syafa'at adalah firman Allah Ta'ala:
"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka (musyrikin) berkata: "Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]”. (QS. Yunus: 18).
Syafa'at itu ada 2 macam:
1. Syafa'at manfiyah (yang ditolak keberadaannya).
2. Syafa'at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).
Syafa'at manfiyah adalah syafa'at yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wata'ala, pada perkara yang tidak seorangpun sanggup memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah : 254).
Syafa'at mutsbatah adalah syafa'at yang diminta dari Allah Subhanahu wata'ala. Makhluk yang memberikan syafa'at itu dimuliakan (oleh Allah) dengan (kemampuan memberikan) syafa'at, sedangkan yang akan diberikan syafa'at adalah orang yang Allah ridhai baik ucapan maupun perbuatannya, itupun setelah Allah mengizinkan. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:
"Siapakah yang mampu memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?". (QS. Al-Baqarah : 255).

القاعدة الثالثة
أنّ النبي ظهر على أُناسٍ متفرّقين في عباداتهم منهم مَن يعبُد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأحجار والأشجار، ومنهم مَن يعبد الشمس والقمر، وقاتلهم رسول الله ولم يفرِّق بينهم، والدليل قوله تعالى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193].
ودليل الشمس والقمر قوله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37].
ودليل الملائكة قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾[آل عمران:80].
ودليل الأنبياء قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].
ودليل الصالحين قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ... ﴾الآية[الإسراء:57].
ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].
وحديث أبي واقدٍ الليثي قال: خرجنا مع النبي إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها: ذات أنواط، فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله إجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط... الحديث.


Kaidah ketiga:
Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara penyembahan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya". (QS. Al-Baqarah : 193).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala:
"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah". (QS. Fushilat : 37).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) malaikat adalah firman Allah Ta’ala:
"Dan dia (Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan-sembahan". (QS. Ali Imran: 80).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) Nabi adalah firman Allah Ta’ala:
"Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (QS. Al-Maidah : 116).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) orang-orang shaleh adalah firman Allah Ta’ala:
" Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra` : 57).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala:
“Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Al-Uzza, serta Manat yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)
Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:
"Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka bisa berdiam (i’tikaf) di sisinya dan mereka bisa menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah sebelum perang, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (Yang mempunyai tali-tali untuk menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu [sebagian dari] kami mengatakan: "Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai Dzatu Anwath….” sampai akhir hadits.

القاعدة الرابعة
أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].

Kaidah keempat:
Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit.
Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. " (QS. Al-Ankabut: 65).

Al-Imam Al-Mujaddid, Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul WahhabPenulis

Senin, 06 Juni 2011

Sunnah dan Syiah Bersatu? Mungkinkah?!

Segala puji yang sebenar-benarnya milik Alloh . Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, kelurganya, para sahabatnya serta orang-orang yang seanantiasa mengikuti petunjuknya.

Ketahuilah, semoga Allah menjagamu dari berbuat jahil dan dari kejahilan orang-orang yang jahil. Saudariku telah ada di tengah-tengah kita orang-orang yang jahil yang menyeru kepada  pendekatan antara sunni-syiah. Sungguh bodoh apa yang mereka serukan, hal ini bak menyatukan susu dengan racun, takan ada satupun yang mau meminumnya. Mana mungkin seorang ahlussunnah yang beraqidah hanif akan bersatu dengan ahlu bid’ah beraqidah rusak.

Saudaraku, semoga Alloh memberikan petunjuk kepadamu untuk taat kepada-Nya. Risalah singkat ini saya salin dari salah satu bab dalam Syarah Ushulus Sunnah Imam ahmad bin Hanbal yang disarah oleh Syaikh walid Bin Muhammad Nubaih. Dalam risalah ini akan dibahas tentang kesesatan Syiah, Perbandingan antara Syiah dan ahlu kitab serta Bantahan terhadap mereka yang menyeru kepada pendekatan sunni-syiah.

Kesesatan Syiah
Imam Ahmad bin hanbal berkata dalam ushulus sunnah pada pon ke-44, “Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam atau membencinya karena suatu kesalahan darinya, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya, maka dia adalah seorang ahlu bid’ah, (dan dia akan tetap seorang ahlu bid'ah) hingga dia menyayangi mereka semua dan hatinya bersih dari (sikap membenci atau mencela) mereka.”

Dalilnya adalah sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam,
Artinya : “Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai (pahala infaq) segenggam (1 mud) salah seorang diantara mereka tidak juga setengahnya". [Dikeluarkan oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim 6/ Juz 16 hal 92-93 atas Syarah Nawawy]

Apabila kamu telah mengetahui hal itu maka menjadi jelas bagimu penyimpangan dan kesesatan yang ada pada orang-orang rafidhoh (salah satu firqoh syiah), dimana mereka telah mencela dan melaknat para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan hati-hati mereka telah terpenuhi kedengkian terhadap mereka (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam), dan mereka berpendapat bahwa khilafah dan kepemimpinan itu tidak ada melainkan pada keluarga Ali (bukan kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman ridhwan allahu ajmain).

Pernah ada seorang laki-laki menyebutkan kejelekan ‘aisyah rodhiallohu ‘anha (dengan menuduhnya berzina) di hadapan Utbah bin ‘Abdulloh al hamdani al qadhi, maka ia (utbah) berkata kepada seorang pemuda, “wahai ghulam (panggilan untuk anak muda dalam bahasa arab) penggellah lehernya!” Maka orang-orang ‘alawiyyun (keturunan Ali) berkata kepadanya, “orang laki-laki ini termasuk golongan kami (dari syiah).” Lalu Utbah berkata, “Aku berlindung kepada Alloh, orang ini telah menikam kehormatan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Alloh berfirman :

“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An Nur: 26)

(Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.)

Apabila ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha adalah wanita yang keji maka Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam adalah laki-laki keji. Maka ia (orang yang menuduh ‘aisyah dengan kekejian) adalah orang kafir, maka penggallah lehernya, lalu merekapun memenggal lehernya.” [al laalika’i :2402]

Imam Asy Syafi’i berkata, “tidaklah aku melihat dalam perkara hawa nafsu suatu kaum yang lebih sering bersaksi palsu daripada orang-orang rafidhoh.” [al laalika’i:2811]

Perbandingan Syiah dan Ahlu Kitab
Diriwayatkan dari asy sya’bi, ia berkata, “wahai Malik (maksudnya Malik bin Mighwal al Kufi, Abu ‘Abdillah tsiqotun (terpecaya) tsabtun (kuat), jama’ah ulama meriwayatkan darinya], sekiranya aku menginginkan agar mereka (orang-orang rafidhoh) memberikan budak-budak mereka padaku dan memenuhi rumahku dengan emas agar supaya aku berdusta untuk mereka atas Ali, niscaya mereka melakukannya. Akan tetapi, Demi Alloh aku tidak akan berdusta atasnya selamanya. Wahai Malik, sesungguhnya aku telah mempelajari perkara-perkara hawa nafsu semuanya, namun aku tidak melihat suatu kaum yang mana mereka lebih dungu dari Kasyabiyyah (salah satu sekte syiah). Seandainya mereka tergolong binatang, maka sungguh mereka adalah keledai-keledai. Dan seandainya meeka tergolong binatang burung, maka sungguh mereka itu burung-burung rakhom (jenis burung yang terkenal memiliki sifat ingkar janji atau sifat kotor)” [An Nihayah, karya Ibnul Al Atsir: (2/212)]

Dan ia berkata: Aku peringatkan kamu dari hawa nafsu-nafsu yang menyesatkan, dan seburuk-buruknya adalah rafidhoh. Hal itu karena ada diantara mereka orang-orang yahudi yang mencela agama islam agar kesesatan mereka menjadi hidup, sebagaimana (bagi orang-orang Yahudi dan nasrani) Bulis bin Syaul (atau syawudz) mencela seorang raja. Mereka itu tidaklah masuk islam dikarenakan rasa cinta dan takut kepada Alloh, akan tetapi dikarenakan kebencian dan celaan mereka kepada orang-orang muslim. Sehingga Ali bin abi tholib rodhiallohu ‘anhu membakar mereka dengan api dan mengasingkan mereka ke beberapa negeri. Diantaranya: ‘abdulloh bin saba diasingkan ke negeri sabath, ‘abdulloh bin syabab dan abu al kurusy serta anaknya diasingkan ke negeri jazat. Itu karena ujian orang-orang rafidhoh adalah (sama seperti) ujian orang-orang Yahudi (bagi kaum muslimjin):

  1. Orang-orang yahudi berkata, “Kerajaan itu tidak layak kecuali bagi keluarga Dawud.” Dan Orang-orang rafidhoh mengatakan, “kepemimpinan itu tidak layak kecuali bagi keluarga Ali.”
  2. Orang-orang yahudi berkata, “Tidak ada jihad fi sabilillah (di jalan Alloh) samapi Al Masih Dajjal keluar atau Nabi Isa turun dari langit.” Sedangkan orang-orang rafidhoh mengatakan, “Tidak ada jihad sehingga Imam Mahdi keluar kemudian ada yang mengumandangkan jihad dari langit”
  3. Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat maghrib sampai bintang-bintang menjadi jelas cahayanya. Demikian pula halnya rafidhoh. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “umatku senantiasa dalam keadaan fitrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat maghrib hingga bintang-bintang menjadi terang cahayanya.” [shohih, lihat Al irwa’ (917)]
  4. Orang-orang Yahudi sedikit berpaling dari arah kiblat. Demikian pula halnya orang-orang rafidhoh.
  5. Orang-orang yahudi memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki). Demikian pula rafidhoh. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah melewati seseorang yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki), lalu beliau menjadikannya berepakaian diatas mata kaki.
  6. Orang-orang Yahudi merubah kitab taurot. Demikian pula orang-orang rafidhoh, mereka telah merubah al Qur’an.
  7. Orang-orang Yahudi berpendapat wanita tidak memiliki masa ‘iddah. Demikian pula orang-orang rafidhoh.
  8. Orang-orang Yahudi membenci Malaikat Jibril dan mengatakan, “Dia (jibril) adalah musuh kami.” Demikian pula sebagian orang rafidhoh, mereka mengatakan, “Jibril keliru dalam menyampaikan wahyu kepada Muhammad.”

Orang-orang Yahudi dan Nasroni lebih utama dibanding orang-orang rafidhoh dengan dua perkara: (yaitu)
  1. Orang-orang yahudi ditanya, “Siapakah orang terbaik dari pemeluk agama kalian?” mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Musa.” Dan orang-orang Nasroni ditanya, “siapakah orang terbaik dari pemeluk agama kalian?” mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Isa.”
  2. Sementara orang-orang Rafidhoh ditanya, “siapakah seburuk-buruk orang dari pemeluk agama kalian?” Mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”

Mereka (orang-orang rafidhoh) diperintahkan agar memintakan ampunan untuk mereka (para sahabat nabi) malah justru mencelanya. Maka pedang (pantas) dihunuskan kepada mereka hingga hari kiamat. Kaki mereka tidak akan kokoh dan panji mereka tidak akan tegak serta kalimat (persatuan) mereka tidak akan terwujud. Da’wah mereka terbatalkan dan persatuan mereka tercerai berai. Setiap kali mereka menyalakn api peperangan, maka Alloh akan selalu memadamkannya.” [Al Laalika’i (4/1461)]

Muhammad bin Subaih as Sammak berkata, “Aku telah mengetahui bahwa orang-orang Yahudi tidak mencela para sahabat Nabi Musa, dan orang-orang Nasrani tidak mencela para sahabat Nabi Isa. Maka bagaimana dengan keadaanmu wahai orang bodoh, kamu mencela para sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam? Aku telah tahu dari (pintu) mana kamu datang? Dosamu tidak menyibukkan dirimu. Sekiranya kamu tersibukkan oleh dosamu, niscaya kamu akan merasa takut pada Robbmu. Sungguh termasuk dari Dosamu adalah kamu lalai dari orang-orang jahat, celakalah kamu. Bagaimana kamu tidak lalai dari (membicarakan kesalahan) orang-orang baik (yakni para sahabat)? Sekiranya kamu termasuk orang-orang baik, niscaya kamu tidak akan mencela  orang-orang berbuat kekeliruan, bahkan kamu berharap bagi mereka rahmat dari Dzat yang Maha Penyayang. Akan tetapi, (memang) kamu termasuk orang-orang buruk, maka dari itu kamu mencela para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang sholih. Wahai pencela para sahabat Nabi, sekiranya kamu tidur dimalam harimu, dan berbuka puasa di siang harimu, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu menghidupkan malam harimu dengan qiyamul lail  dan siang harimu dengan puasa sedangkan kamu mencela orang-orang baik (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam). Dan bergembiralah kamu dengan sesuatu yang tiada kegembiraan didalamnya, jika kamu tidak bertaubat dari apa yang kamu lihat dan dengar. Celakalah kamu! Mereka (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam) telah dapat kemuliaan dalam perang Badr, dan mereka (juga) telah mendapatkan kemuliaan dalam perang Uhud, sebab mereka semuanya telah mendapatkan ampunan dari Alloh, sebagaimana firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (QS. Ali ‘Imron : 155)

Dan kamipun berhujjah dengan akhlaq nabi Ibrohim Kholilur Rohman (kekasih Alloh), dia berkata :

Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrohim : 36)

Beliau (nabi Ibrohim) telah menawarkan ampunan bagi orang yang durhaka. Sekiranya beliau mengatakan, “sesungguhnya Engkau Maha perkasa lagi Maha Bijaksana, dan adzab-Mu adalah adzab yang pedih.” Maka berarti beliau telah menampakan sifat balas dendam (tapi bliau tidak melakukannya). Maka dengan (perbuatan) siapakah kamu berhujjah (untuk perbuatanmu) wahai orang bodoh. Sungguh seburuk-buruk kholaf (yaitu orang-orang yang datang setelah generasi salaf) adalah orang-orang yang mencela orang-orang salaf (yang sholih). Sungguh satu orang yang sholih dari generasi salafush sholih itu lebih baik dari seribu orang dari generasi Kholaf. Mereka (para sahabat nabi shollallohu ‘alaihi wasallam) telah mendapatkan ampunan dari Alloh, sebagaimana firmanNya,

Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qs. Ali ‘Imron : 155)

Maka apa yang akan kamu katakan kepada orang yang telah diampuni oleh Alloh? [al laalika’i: 2819]

Bantahan terhadap mereka yang menyeru kepada pendekatan sunni-syiah
Maka hendaklah orang-orang yang menyeru kepada pendekatan antara sunnah dan syiah—sebagaimana mereka sangka—Bertakwalah Kepada Alloh. Perumpamaan mereka seperti orang yang dijelaskan oleh Alloh dalam kitabNya

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),” (QS. An Nisa’ :150)

Dan disana hanya ada satu jalan dan satu golongan, yaitu golongan yang selamat, yang dimenangkan dan tampil (dengan kebenaran) hingga hari kiamat. Maka atas dasar apakah mereka (syiah dan sunnah) dapat bertemu? Mereka adalah (seperti yang digambarkan Alloh)

Mereka dalam Keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An Nisa’ :143)

Dan Nabi memberikan perumpamaan untuk perkataan mereka,
perumpamaan seorang munafik itu seperti seekor domba yang pulang pergi tidak jelas antara dua domba. Terkadang ia pergi ke domba ini dan terkadang ia pergi ke domba itu. Ia tidak tahu domba mana yang akan ia ikuti.” (HR. Muslim : 2784)

Ya Alloh, tampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami kebathilan sebagai kebathilan, dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. Dan tunjukkilah kami kepada kebenaran dalam perkara yang di perselisihkan, dengan izinMu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.